Gembira itu Nikmat…

September 29th, 2006 by antokuaku

Alhamdulillah…
Hari ini kesekian kali kegembiraan menghampiri, membuai dan kemudian menyegarkan dunia pikir-ku, mudah-mudahan aku bisa jauh lebih produktif…Amiin.
Mengapa Gembira?
Ternyata benar bahwa manusia ini dihiasi oleh-Nya dengan kegemaran menuruti hawa nafsu, kesukaan akan wanita/pria, harta, kuasa dan tentu saja ‘dunia’ dengan segala tipu dayanya. Nah, kegembiraan yang menghinggapiku adalah kegembiraan di-harga-i orang lain, artinya keberadaanku menjadi bermanfaat bagi manusia lain. Ternyata, totalitas membantu orang lain membuahkan ‘hasil’, bisa materi lebih-lebih immateri. Sekedar merasa bahagia bila orang lain bahagia, juga merasa sedih bila orang lain sedih, siap membantu bila orang lain butuh. Lho, hanya sekedar ‘tersenyum’ saja (tentu saja dengan rasa ikhlas), rasa-rasanya orang lain akan merasa dihargai, penghargaan ini melahirkan pengakuan eksistensi seseorang dan tentu berujung pada keinginan untuk dibutuhkan. Kata kuncinya ‘dibutuhkan’, ya! siapa sih yang ingin menjadi orang yang tidak dibutuhkan? sebagian besar pasti ingin mendapatkan gelar sebagai ‘orang yang dibutuhkan’…

Berarti antara gembira, suka membantu, bersedia tersenyum ikhlas, menghargai orang lain dan keinginan untuk ‘dibutuhkan’ (dengan kata lain, bermanfaat untuk orang lain), semua ini memiliki hubungan sistemik. Bagaimana hubungan ini? Dengan bantuan David Easton, dapat diceritakan bahwa gembira itu hanyalah out come dari sifat/sikap suka membantu dan menghargai orang lain yang kemudian di-proses dengan rasa ikhlas. Nah, out put dari itu adalah anda akan ‘dibutuhkan’ orang lain.

Mudah-mudahan kita termasuk kelompok yang ‘dibutuhkan’ orang lain, bukan malah menjadi ’sampah’ bagi orang lain….

Amiin…

NB. Itulah mengapa aku mengatakan bahwa gembira itu nikmat… Usahakan   sampeyan dapat mengalami gembira…

Salam Manis,

Zul Al-Fikr The Ikhwani

Yusuf…oh..Yusuf..

September 4th, 2006 by antokuaku

Andaikan Yusuf hadir di tengah dunia yang dipenuhi problem multi dimensi, mulai dari problem moral, sosial, ekonomi, politik, hankam, ideologi yang ‘tidak jelas’, soal budaya sampai memdesign juga membangga-banggakan sistem demokrasi (yang ternyata juga belum jelas-las!!– saya sendiri merasakan eksistensi kesan liberalisme) guna mencapai kesesuaian dengan kondisi ekosistem bangsa. Coba Yusuf diandaikan hadir!! Boleh juga dengan memejamkan mata sampeyan…;) Ternyata, hasil pengandaian saya mengatakan bahwa Yusuf tidak perlu berlenggak-lenggok bak penari ‘perangsang’ apalagi sambil buka-buka baju untuk sekedar membuat ‘rangsangan seksual’ pada lawan jenis bahkan yang sejenis. Cukup dengan ‘tersenyum’, maka ketampanan yang dimilikinya akan menggoyang-ngeborkan seluruh dunia, sehingga muncul gempa bumi, angin ribut/puyuh, gunung meletus, banjir bandang, banjir lumpur bahkan ‘tsunami’, dengan kata lain : Ketampanan Yusuf mampu menciptakan ‘kiamat kecil dan menengah’ di sgala penjuru dunia. Sungguh mempesona!! Tapi sudah pasti!! Yusuf harus bertanggung jawab atas segala musibah di dunia. Yusuf harus dipenjara!! Yusuf harus di-hukum!! Bila perlu dioperasi face-off, wajahnya diubah jadi ‘jelek’!!

Eit….Eittt….tunggu dulu….
Jangan Teruskan Pengandaianmu….

Coba dengar apa yang dikatakan oleh Yusuf saat akan dipenjarakan…
Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."

MasyaAlloh… bukan soal ‘ketampanan’ saja yang menghancurkan dunia, tapi ‘kesalehan’ Yusuf-lah yang mampu mencegah bencana….

Salam manis,
Sedulur Sampeyan,

Zul Al-Fikr The Ikhwani
       Al-Gholambir

   

‘Ngobrol’ for LifeStyle

August 1st, 2006 by antokuaku

Hidup serba tidak jelas!! Karena tidak jelas, maka eksistensi ‘proses’ menjadi begitu penting. Artinya, berusaha menjadi manusia yang tidak berorientasi hasil, atau berharap mencapai cita-cita secara ‘instan’. Karena memang hidup tidak semudah membuat mie instan.. tidak mudah selalu menyesuaikan diri dengan ‘waktu’ dan ‘kejadian dalam hidup’– bagi saya, lingkungan terlalu ‘kecil’ untuk dipahami— sekali lagi!! memahami waktu dan setiap kejadian dalam hidup, menjadi utama. Hidup memang tidak jelas!! untuk menemukan jawaban (bahwa ‘hidup ternyata jelas!’) adalah ketika kita terus merasa WAJIB selalu dekat dengan-Nya… just do it!Berkomunikasi dengan-Nya adalah the only one way untuk merasakan kenyamanan dalam mengarungi waktu dan menghadapi segala kejadian dalam hidup… Untuk mengeliminasi distorsi komunikasi dengan-Nya, selalu perteguh keyakinan dan makin cinta ‘dekat dengan-Nya’ hingga mengalami ‘kepuasan’…
Sesungguhnya Dia tidak melihat kita (as a human) melalui penampakan lahir….
Maka,
Gunakan hatimu dengan benar sedulurku…

sedulurmu,

Zul Al-Fikr (Al-Gholambir)

Zul’s Rose..(GR)

July 20th, 2006 by antokuaku

Ketika akhir perjumpaan datang, bunga yang selalu tergenggam kuat di tanganmu ‘itu’ tiba-tiba engkau berikan kepadaku…(saat itu aku memang sedang membutuhkan bunga itu dan selalu menunggu)…ah.. yang aku harapkan terkabul sudah!!!..he2. Mmm..Tahu engga? saat prosesi ‘pemberian bunga’, jantungku yang berdegup stabil (dengan irama tenang)..tiba2 mengalami akselerasi dalam setiap degup-nya..dug..dug-dug…dug-dug-dug..dst… apa maksud semua ini?! apakah..apa…apakah…(aku yakin pasti ada ’sesuatu’ ya pasti ada ’sesuatu’).. eh, ternyata………rasanya maluuuu…sekaliiii… (bener2 malu2in! coba ada penitipan wajah, tentu wajah ini sudah aku sembunyikan pada barisan locker paling bawah berposisi di pojok). Lho?!itu lho! mulutnya yang manis itu tiba-tiba berucap : "Sampai Jumpa Sahabatku…Smoga di ’sana’ engkau selalu mendapatkan perlindungan-Nya dan dianugerahi-Nya kesuksesan dalam hidup……."

Amiin….., aku pikir hanya itu yang bisa aku ungkapkan…(sambil celingak-celinguk kayak ‘kethek ketholop’)

Sedulur sampeyan,

Zul Al-Fikr The Ikhwani
      Al-Gholambir

Zul’s IFTITAH

July 20th, 2006 by antokuaku

Assalamu’alaikum….

Selamat datang…
Kehadiran sampeyan membawa arti ‘tersendiri dan tersembunyi’ di ruang cinta dalam hati saya. Smoga selalu ada kehidupan yang diidamkan bersama (oleh siapapun), tentu dengan segala nuansa penuh kasih sayang…
Saya selalu menghendaki terwujudnya ‘jejaring relasi’ sebagai manifestasi dari ikhtiyar selalu menjaga silaturrahim….
Terima Kasih…

Wassalamu’alaikum…

Sedulur sampeyan,

Zul Al-Fikr The Ikhwani